Selasa, 15 November 2011

Writer Block

picture from: www.jedword.com

Entah mengapa akhir-akhir ini saya merasa sedang dilanda writer block. Sebetulnya ada cukup banyak ide bersliweran di kepala, cerita ini-itu dan foto-foto lucu yang pengen sekali segera di posting. Tapi setelah susah payah saya memaksa otak untuk merangkai kata-kata,  beberapa baris saja saya sudah mandeg dan menyerah. Menghasilkan beberapa draft yang tidak pernah selesai ditulis.

Me & Reading
Kalau sudah begini, saya kembali ke kebiasaan lama yaitu membaca (ulang) buku-buku favorit yang biasanya bergenre traveling, self help book, dan Chicklit. Theodora's Dairy dan Theodora's Wedding adalah dua judul chicklit, yang meskipun sudah kusam tapi kocak hingga demen saya baca berulang kali. Bukan melulu perkara cinta, Theodora mengisahkan kehidupannya sehari-hari yang 'biasa banget' dan pergumulan pribadinya:  pacarnya yang baik tapi sulit diajak ke gereja, karirnya yang membosankan, perjuangannya melawan ketagihan cokelat dan komitmennya untuk rajin menulis diary. Theo adalah pribadi yang aneh dan lucu, saya suka caranya mendeskripsikan kehidupan bergereja dan kenalan-kenalannya yang beberapa cukup nyentrik dan mengganggu. 

Chicklit memang jenis bacaan fiksi yang 'cewek banget' dan agaknya kurang nyambung dengan dunia blogging. Meski demikian saya belajar banyak dari gaya penulisan chicklit dengan luar biasa bisa sangat deskriptif dalam menjabarkan sesuatu dengan melibatkan panca indera pembacanya. Keistimewaan lainnya ada pada pencitraan karakter tokoh-tokohnya. Pencitraan karakter dalam chicklit sangat kuat, hingga kadang pembaca menemukan sebagian dari dirinya atau seseorang yang dikenalnya yang mirip dengan tokoh dalam chicklit

Sophie Kinsella adalah penulis chicklit favorit saya. Dalam Shopaholic-the series ciptaannya, kita bisa mendalami pikiran si Becky Bloomwood-si tokoh utama yang bermasalah dengan credit card karena kebiasaan gila belanjanya. Lepas dari kontroversi soal kebiasaan belanja berlebihan, saya salut dengan cara pendeskripsian karakter Becky. Kita bisa mendalami  karakternya dari cara Becky melihat sepasang "perfect shoes" atau benda-benda lain yang terasa HARUS dimilikinya. Juga cara-cara konyolnya untuk menghindari bankir dan tagihan kartu kredit. She's totally insane, but this a well writen book. 

Terkadang menulis blog juga membutuhkan sentuhan kreatifitas yang sama. Mendeskripsikan  dua pantai indah yang berbeda secara fisik  gampang-gampang susah. Menjelaskan seperti apa orang-orang yang kita temui dalam perjalanan, budaya  dan kebiasaan mereka juga butuh keahlian deskriptif yang sama ruwetnya. Begitu pula dengan cara menjelaskan kondisi emosional yang kita rasakan saat itu. Terkadang kalau sedang gak mood,  hal-hal ini bisa bikin frustasi. Mudah dibayangkan, susah dituliskan.

Makanya buat saya penulis yang hebat itu adalah mereka yang mampu menceritakan hal-hal rumit jadi sederhana, dan mendeskripsikan hal-hal simpel jadi istimewa. Dalam hal travel writing, bagaimana membuat artikel yang bisa membuat pembacanya memiliki sudut pandang baru tentang suatu tempat. Mengajak pembaca merasakan apa yang kita rasakan dan alami, atau malahan ikutan kepengen pergi ke tempat yang kita datangi. Tapi itu cuma definisi saya loh!

Buku Traveling favorit saya dan Panda adalah Naked Traveler. Ada beberapa buku  traveling lain yang kami baca, tapi buku ini spesial dengan  gaya penceritaan yang ringan dan jenaka. Si penulis, Trinity jelas pakar dalam menterjemahkan pengalaman yang paling sial sekalipun jadi cerita yang menarik dan terkadang bikin saya sampai ketawa ngakak. Buku ini bukan jenis yang berisi how-to-get-there, meski begitu berhasil menginspirasi banyak orang untuk mencintai dunia traveling dan travel writing. Btw, kisah perjalanan kocak Trinity juga mula-mula dikenal karena blog'nya. Ia jelas termasuk dalam daftar blogger yang sangat inspiratif buat saya. 

Me & Blogwalking  
Selain buku, saya juga bersehabat dengan blog. Selain ketika sedang melakukan 'riset' untuk keperluan dolan, saya juga hobi blogwalking. Kalau sedang ada planing untuk pergi ke suatu tempat, saya biasa mencari info tentang rute perjalanan, alternatif transportasi, harga tiket, makanan khas yang wajib dicoba dan berbagai detail kecil tentang biaya ini-itu yang akhirnya melengkapi rancangan itinerary plus budgetnya. 

Kalaupun tidak sedang melakukan riset, saya juga masih senang membaca blog yang berisi catatan perjalanan. Hanya saja bukan detail yang dicari. Saya demen mempelajari gaya penulisan seorang blogger dari postingan mereka.

Sungguh mengesankan betapa perjalanan ke tempat yang persis sama bisa menghasilkan cerita dan pengalaman yang berbeda. Saya menemukan sendiri ada beberapa blogger yang bisa sangat kreatif dengan kata-kata. Mereka ini selalu membuat catatan perjalanan yang asyik dan punya personal touch yang kuat dalam tiap artikelnya. Hal ini kadang bikin saya minder dan sedikit sirik.

Ada blog yang foto-foto perjalanannya bikin saya menahan napas dan bikin envy berat. Blogger tipe ini biasanya hobi jalan sekaligus jeprat-jepret, tapi pelit dengan kata-kata  dan kurang narsis. Meskipun banyak juga blog yang saking terlalu banyaknya detail, sampai ke menit-menitnya ditulis, hingga malah melewatkan sensasi yang dirasakan si blogger itu sendiri. Yah, tiap orang punya style masing-masing sih..

Begitulah kegiatan iseng saya jadi pengamat blog. Meski senang blogwalking tapi saya hanya satu-dua kali saja meninggalkan jejak berupa komentar atau tautan link. Entahlah, mungkin saya ini tipe silent reader.

Me, Him & HIM
Pikiran saya berpetualang ke masa 7 bulan yang lalu, ketika "kami" memutuskan untuk membuat blog ini. Setelah menjalani long-distance-relationship selama 3 tahun yang membahagiakan juga menguras air mata (halah!), saya kemudian menyusul hijrah ke Depok untuk hunting kerjaan. 

Dulunya cuma bisa ketemu dua-tiga bulan sekali, paling cepet sebulan sekali. Berantem via telepon, nangis dan kangen-kangenan juga sama telepon. Sekarang hampir tiap weekend bisa ketemu, bisa malem mingguan, dari ngubek-ngubek museum di Jakarta sampai berkesempatan terbang ke S'pore. Its amazing.

Dari latar belakang "biasa berjauhan" itu, kami berusaha memanfaatkan moment bersama dengan cara yang nyentrik dan menyenangkan. Biarpun kadang bikin bokek. Dan dari berbagai momen jalan-jalan bermanfaat itu, terkumpulah banyak foto. Itulah modal awal kami bikin blog, foto dan pengalaman.

Cerita memang punya sensasi yang berbeda dari sekedar foto. Selain sebagai kenang-kenangan, dengan ngeblog kami juga berharap orang-orang terbantu dengan tulisan kami. Secara dulunya kami juga banyak dapat info tempat-tempat yang asyik dari blog. Kalau buat saya pribadi, ngeblog adalah bentuk cinta dan perhatian saya buat Panda. Bahwa segala kejadian yang sudah kami lalui bersama sungguh berarti untuk saya. Dan saya tahu, sejelek-jeleknya tulisan saya, saya punya pembaca favorit yaitu Panda. 

"Kalau writer block lagi melanda, saya suka melihat kumpulan foto-foto kami.  Me, him and big smile, i love it. It makes me better.

Memang sejauh ini baru saya saja yang berkontribusi menulis, karena kesibukan Panda. Ditambah, baru-baru ini laptopnya sedang 'bermasalah'. Jadi sementara ini saya single fighter untuk mengisi blog ini, lagian I have plenty of time.

Masalahnya saya ini agak moody yang diperparah kejadian kehilangan Toshiba notebook tercinta (berikut digicam dan file foto). Untungnya Panda punya back-up beberapa foto kami termasuk di Singapore, Penang dan Tidung. Tidak semua memang, tapi lumayan banget.

Singkat cerita, saya masih punya banyak PR untuk memposting hasil jeng-jeng kami. Tadinya saya agak terintimidasi. Snorkeling di Tidung belum ditulis, jelajah  museum-museum di Kota Tua, ataupun Wagyu Steak di Holycow yang bikin ngiler.  Pokoknya  belum kelar ditulis, dan foto-fotonya keburu ilang, eh, kami sudah punya kisah baru lagi yang siap ditulis. 

Tapi kemudian saya mengkoreksi kebodohan ini. Mestinya saya bersyukur pada Tuhan, karena Ia memberikan kesempatan jalan-jalan lebih  banyak dari  pada kesanggupan saya untuk menceritakannya.
Maafkan saya Tuhan. Saya akan berusaha untuk lebih rajin lagi mempostingkan artikel sebagai rasa syukur atas kesempatan yang Engkau berikan pada kami. :)


PS:
-sebenernya diam-diam saya juga nyambi ngegame Zombie Lane di Facebook kalau lagi writer blocknya kumat. Menanam paprika untuk beli senjata, lalu senjatanya untuk nembak Zombie. I love it, but Panda hates me playing this game.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak..