Tampilkan postingan dengan label Travel Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel Kuliner. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2013

Parade Kuliner Vietnam di Saigon

1. Pho 2000

2 Nha Hang Ngon
3. Pizza 4P's
  4. Cuc Gac Quan
4. Khoai Restaurant
 
5. Street Food
6. Ben Thanh Night Market
7. Fanny Ice Cream
8. Kem Bach Dang Ice Cream
 
9. Trung Nguyen Coffee

Rabu, 11 September 2013

I'm in love with Chatime


"Namanya jodoh nggak akan kemana.."

Ini mitos lama yang biasa dikatakan orang untuk menghibur jiwa-jiwa yang lagi galau. Tapi kali ini saya pikir mitos itu ada benernya. Paling nggak untuk kasus yang satu ini. Perjumpaan pertama saya dengan Chatime adalah di penerbangan Air Asia rute Kuala Lumpur- Clark. Bisa dibilang naksir pada "sruputan" pertama pada Chatime roasted milk tea with grass jelly. Rasanya bener-bener khas, tehnya manis dengan aroma unik sementara grass jellynya lembut dan adem di badan. Btw, di Indonesia grass jelly lebih beken dengan nama cincau. Pantes kan adem.  

Pertemuan Pertama
Setahun berlalu, mungkin karena jodoh, atau karena baru tahu kalau Chatime ini ternyata frenchise, ketemulah lagi kami di Margocity, Depok. Senangnya hati, saya dan Panda menjatuhkan pilihan ke roasted milk tea with grass jelly (lagi). Ternyata Chatime ini konsepnya costumized, jadi konsumen bisa menentukan mau berapa banyak es atau gula. Tapi efeknya jadi lamaaa banget antrinya. Di kotak sekecil itu ada setidaknya 10 karyawan tapi teteeep aja lama. Antriannya bikin ilfil deh..

Pertemuan kedua terjadi di PIM. Waktu itu saya lagi nemenin Panda ngelembur di kantornya di Fatmawati. Kami lalu ke area 51 di PIM untuk cari makan. Dan tadaa.. ketemu lagi Chatime, lagi-lagi dengan antrian yang mengular. Tapi tetep aja ikut ngantri. Pilihannya jatuh ke Roasted tea with bubble. Dan, ternyata kami lebih suka grass jelly. Karena deket kantornya, si Panda suka pamer-pamer kalau lagi beli Chatime di PIM.  

Chatime Grass Jelly with Fresh Milk
 
Lagi-lagi, jodoh emang nggak kemana..
Dalam rutinitas pulang ke kantor, seperti biasa saya selalu melewati Ace Hardware Margonda, Depok. Tapi hari itu ada yang lain. Spanduk raksasa berwarna pink-ungu yang tertempel di tembok ini bikin saya langsung belokin motor. Ada Chatime didalem Ace Hardware dan antriannya mending banget! Lagi-lagi order roasted milk with grass jelly. 

Sampai pertemuan kesekian, kami selalu order menu yang sama. Sampai suatu saat roasted teanya sold out. Iseng-iseng order grass jelly with fresh milk tapi ditambah less ice dan extra sugar karena recepi aslinya dengan plain milk. Dan, rasanya enyakkk banget, jauh dari eneg. Kalau sama roasted tea itu ibarat naksir, sama grass jelly with fresh milk ini ibarat cintaaa. Hahaha... 

Sejak itu deh, tiap weekend saya dan Panda rajin ke Ace Hardware Margonda ini cuman buat beli chatime aja. Dan orang rumah pun jadi ikut ketagihan. Kadang-kadang kalau pulang kantor mesti tutup kaca helm biar nggak tergoda belok ke sini. Semoga cinta ini langgeng dan nggak bikin tekor karena harga per-cupnya pun lumayan. Regular size Rp. 21.000,- dan Large size Rp. 24.000,-. Yummy.. 

Good Tea, Good Time (Chatime)


  



     

Airport Corner: Tong Tji Tea Bar, Semarang

Sebagai "korban urbanisasi", kami biasa pulang kampung dengan rute penerbangan Jakarta-Semarang atau Jakarta-Solo dilanjut jalan darat ke Salatiga. Seringnya kami berangkat-pulang melalui Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. 

Meski melayani rute penerbangan International, bandara ini relatif kecil dibanding bandara-bandara tetangganya. Bandara ini hanya mempunyai 1 terminal. Pintu keberangkatan untuk semua penerbangan melalui satu pintu yang sama. Meski pilihan makanpun terbatas, begitu kami punya spot favorit disini: Tong Tji Tea Bar!

Mendoan Petis, Tahu Kemul and Tong Tji Jasmine Tea

Secangkir Teh dan Sepiring Gorengan 
Tong Tji Tea bar ini berada di dalam ruang tunggu domestik, persisnya ada di pojok kanan. Jelas dari namanya, Tong Tji Tea Bar menjual aneka varian teh maknyus dari brand Tong Tji. Tapi ada dua hal yang membuatnya spesial. 

Pertama, menunya. Selain teh, Tea Bar ini juga menjual aneka jajanan khas Jawa. Jajanan yang wajib dicoba: tahu bakso, tahu kemul dan mendoan. Tahu bakso ini adalah tahu isi daging bakso, yang dikukus lalu digoreng. Tahu kemul dibuat dari tahu yang digoreng tepung sampai garing dan renyah. Mendoan dibuat dari irisan tipis tempe yang digoreng dengan tepung dan irisan daun bawang. Walau sederhana, tapi gorengan ini selalu ngangenin.

Ketiga menu "goreng-gorengan" ini disajikan dalam potongan kecil-kecil, finger foods, alias sekali suap. Gorengan yang panas, renyah krenyes-krenyes dan gurih berpadu dengan saus yang pedas-manis, rasanya maknyuss!! Harga seporsinya sekitar belasan ribu rupiah dan bisa untuk berdua. Kalau tehnya, favorit saya adalah Milk Tea sementara Panda lebih suka Jasmine Tea.

Kedua, lokasinya. Terletak di dalam ruang tunggu, Tea Bar menghadap persis ke kaca dimana pesawat-pesawat kita parkir. Jadi ketahuan banget pesawatnya mana udah dateng, mana yang delay. Sayangnya, jumlah meja-kursi Tea Bar ini terbatas, jadi sabar-sabar saja antrinya. 

Airport Waiting Time
Jadilah inilah ritual kami menunggu penerbangan pulang ke Jakarta. Sembari menunggu gate open, kami matikan handphone. Lalu menyibukkan diri dengan obrolan ngalor-ngidul, ditemani teh hangat dan gorengan panas. Sesekali melihat lalu-lalang pesawat yang bergantian landing dan take off. 

Kadangkala lucu juga mengamati aneka ragam penumpang. Rombongan keluarga yang ribut karena barang bawaannya, bapak-bapak bussiness man yang sibuk di depan laptopnya, pasangan muda yang sibuk dengan HPnya masing-masing atau para orang tua yang sibuk mengejar anaknya kian kemari. Sementara kami duduk tenang sambil menikmati teh. Just like a quote by David Walliams "All human life can be found in an Airport". 
 


  

Selasa, 10 September 2013

Airport Corner: Food Cetera, Soetta Airport Jakarta

not too expensive foods, cozy place  @Food Cetera
Bulan Maret lalu, saya dan tante sampai juga di terminal 1 bandara Soekarno-Hatta setelah melewati penerbangan Malang-Jakarta dengan turbulensi yang sukses bikin jantung melompat-lompat. It was the most scariest flight experience we've ever had! Karna kurang familier dengan terminal ini dan dalam kondisi capek, stress dan super lapar, kami bergegas melenggang masuk ke Food Cetera yang terlihat cozy dan baru dibuka. Fyi, food court ini terletak diantara terminal 1B dan 1C bandara Soetta.   

classic poster @Food Cetera

Sesuai dugaan, atmosfer dan ambiancenya OK punya, interiornya ditata apik dengan gaya vintage dengan dominasi kayu yang menonjol. Saya juga suka dinding bata eksposnya yang dihias dengan poster klasik. Meskipun mengusung gaya oldies, sistem pemesanan dan pembayarannya sudah modern menggunakan sistem pre paid card. Sebagaimana food court di mall-mall besar di Jakarta, sistem ordernya dipermudah dengan sistem kartu yang diisi deposit.

menu nasional dan internasional @Food Cetera
Pilihan makanan di Food Cetera cukup beragam dari makanan indonesia maupun menu internasional. Meski belum mencoba semua, tapi saya punya beberapa menu favorit disini. Untuk makanan lokal, favorit tante saya adalah nasi bakar peda yang wangi, sementara pilihan saya jatuh ke pempek lenggang yang gurih. Sementara menu internasional, kami 100% sepakat spagettinya worthed to try. Saus bolognisenya itu bener-bener pas antara manis-asam dan loyal daging cincang. 

Yang bikin ketagihan lagi, disini bener-bener banyak pilihan dessert. Es doger, es puter dan es-es menggiurkan lainnya dibandrol dengan harga belasan ribu rupiah. Sedangkan harga makanan disini kurang lebih sesuai standar airport, sekitar 20-40ribu per porsi. Kalau nggak salah kami berdua pesan 4 jenis makanan 'berat' dan 2 dessert dengan total kurang dari Rp. 150.000,-.

Es-es menggiurkan @Food Cetera
Di tengah hiruk-pikuknya Bandara Soetta, Food Cetera ini tempat yang recommended untuk urusan perut. Soalnya kami ini tipe yang masuk ke restoran 100% untuk makan, bukan sekedar untuk nongkong cari wifi atau menyesap secangkir kopi. Buktinya, bulan Juni lalu sesampainya di Terminal 3 setelah penerbangan Hongkong-Jakarta, kami rela seret-seret koper dan naik shuttle bus ke Terminal 1. Dan setelah 9 hari berdimsum dan berwanton ria, kami akhirnya "bales dendam" bernasi ria di Food Cetera ini. 

“A full stomach makes a happy heart”. – Spanish Proverb 

Selasa, 12 Juni 2012

Durian Singaraja: si Manis Berduri dari Bali

Bicara soal kuliner pulau dewata, maka pikiran kita segera tertuju pada ayam betutu yang super pedas, bebek bengil khas Ubud, babi guling yang menggoda dan beragam panganan menggiurkan lainnya. Tapi kalau ngomongin soal buah khas Bali,  sejauh ini kami cuma tau salak bali. Salak bali memang sungguh populer, tapi gimana dengan buah lainnya?

Adegan nyasar tanpa peta dalam rangka nonton Devdan Show adalah awal perjumpaan kami dengan buah berduri ini. Saya dan Panda sudah lelah seharian mengelilingi area selatan Bali dengan motor sewaan. Setelah tanya sana-sini, seorang penduduk lokal memberi tahu bahwa kami mesti belok ke kanan untuk menuju kompleks BDTC Nusa Dua. Entah bagaimana, Panda justru membelokkan motor ke arah kiri dan berhenti di sebuah stall sederhana. Rupanya ada yang ngiler duren!

durian Singaraja
Sebenernya saya rada ilfeel melihat tumpukan durian bulat dan kecil-kecil itu, kok sepertinya nggak meyakinkan. Apalagi kami punya beberapa pengalaman pahit ditipu penjual durian lokal di Depok. Setelah sedikit basa-basi, kami tau kalau bapak penjualnya ini orang jawa yang sudah puluhan tahun merantau di Bali. Obrolan berlanjut pakai bahasa jawa krama pula. Akhirnya tanpa banyak nawar, kami beli sebuah aja dan pasrah minta si bapak yang memilihkan buat kami.

Diketuknya kulit durian lalu dibelah dengan parang dengan mudahnya. Daging durian ini nampak berwarna kuning pucat, teksturnya lembek, daging buah tidak terlalu tebal, biji besar seperti kebanyakan durian lokal Indonesia. Biar begitu soal aroma dan rasanya istimewa: aroma kuat, rasa manis dominan, creamy dan sedikit pahit. Yummy! Baunya nempel kuat di tangan. Sambil terheran-heran kami tanyakan asal durian ini, yang ternyata adalah durian lokal dari Singaraja. Oooo... di Bali ada perkebunan duren juga toh?

Kurang dari 5 menit, ludeslah sebutir durian kecil itu. Panda keliatan belum puas, jadi kami tambah sebuah lagi. Habis sizenya bener-bener kecil, mungkin sedikit lebih kecil dari melon. Total damage untuk 2 butir buah manis berduri ini Rp. 35.000. Really worthed to try. Sayang kami nggak tahu nama varietas atau nama lokal si duren ini. 

Sebenernya melihat potensi sumber daya alam dan fanatisme penggemarnya, industri durian punya peluang yang cukup besar di Indonesia. Seandainya digarap dengan serius, bukan tidak mungkin industri buah-buahan Indonesia bisa menyamai Thailand. Setidaknya seperti Malaysia yang durian D24 dan D101 sudah menyusul go international. Ya kan?

Eat more, travel more :) 







Sabtu, 19 Mei 2012

Mari coba masakan Korea..


Di suatu siang yang absurd di bulan April lalu, saya dan Panda sedang kebosanan menunggu kedatangan travel Cipaganti di Cibubur Times Square. Hujan baru saja usai meninggalkan hawa dingin yang mengguncang perut kami yang masih kosong. Kamipun berkeliling di area itu sambil berharap menemukan tempat makan yang tepat. 

Hujan sudah kelar, petir juga nggak ada, tiba-tiba tangan Panda menunjuk ke sebuah restoran Korea. I’m a bit shock! Pertama, nggak ada satupun dari kami yang pernah makan masakan Korea. Dua, satu-satunya menu yang saya tahu cuma sayuran hasil fermentasi bernama kimchi, itupun hasil dari nonton sinetron Korea. Tapi tetep, dengan pengetahuan yang serba terbatas DuoPanda melenggang masuk ke restoran Soyanggang.

Investigasi Menu..
Ruang makan di restoran ini terdiri atas bilik-bilik kecil. Di tiap bilik ada sebuah meja pendek dan beberapa kursi, sekilas seperti tempat lesehan di pemancingan ikan. Bedanya kursinya dilengkapi sandaran dan di bawah mejanya terdapat lubang untuk menaruh kaki. Jadi nggak bisa dibilang lesehan juga sih. 

gaya lesehan ala Korea
Seorang waitress datang bersama buku menu yang ditulis dalam 3 bahasa: Korea, Inggris dan Indonesia. Bermenit-menit kami habiskan untuk menginvestigasi si mbak ini untuk mendapatkan rekomendasi masakan yang mesti kami order. Panda nyaris mengorder Samgyetang, sup ayam muda utuh yang dimasak dengan ginseng. Karena ragu-ragu, kami akhirnya menjatuhkan pilihan pada Samgyupsal yaitu irisan daging babi tanpa bumbu yang dibakar dengan arang. Harga seporsinyapun lumayan, Rp. 90.000. Namanya juga nambah pengalaman kuliner. Jadi kami share seporsi ini untuk berdua ditambah dengan nasi. 

Tragedi Kimchi..
Tak lama kemudian datanglah ocha, teh tawar ini disajikan dingin dan gratis untuk kami berdua. Disusul 12 cawan kecil side dish gratisan lainnya yang disebut banchan. Menu banchan ini terdiri dari kimchi yang terbuat dari sawi dan lobak, taoge rebus, asinan lobak, sejenis tumisan bihun dan sayuran-sayuran lainnya. Mulanya kami senyam-senyum karena dapet banyak banget menu gratisan, until I made a big mistake. 

bingung pilih banchan..
Bukannya mulai dari menu yang terlihat ringan, saya langsung aja menyuapkan kimchi dari sawi putih berlumur saus merah itu ke dalam mulut. Bener-bener rasa yang asing buat lidah saya. Pertama terasa pahit, pedas lalu asam diikuti aroma langu nan tajam yang tertahan di mulut.

kimchi
Melihat roman wajah saya, Panda memutuskan untuk nggak melakukan hal yang sama, curang dia. Btw, saya tidak bermaksud mendiskreditkan perihal kimchi ini, mungkin memang lidah saya yang kampungan atau mungkin kami mesti nyoba versi aslinya di Korea sana hehehe..

Babi bakar arang = Samgyupsal
Setelah tragedi kimchi sawi itu berlalu, seorang waiter masuk sembari menjepit loyang bulat berisi briket arang yang sudah menyala. Ia menempatkan briket ini di dalam pemanggang yang menyatu dengan meja. Seketika bilik kecil kami terasa lebih hangat dan dipenuhi asap. Ia kemudian mengaktifkan tabung penghisap asap yang lumayan berisik. Seorang waitress bergiliran masuk membawa senampan daging babi mentah yang sudah diiris tipis. Daging ini bener-bener polos tanpa bumbu apapun. Dipanggangnya lembaran-lembaran tipis itu bersama jamur didepan kami. Inilah seni kuliner Korea, cara memasaknya pun sangat menarik. Setelah tingkat kematangannya pas, lembaran daging itu dipotong kecil-kecil dan disajikan di sebuah mangkuk. 

cooking Samgyupsal
Setelah arang panas itu disingkirkan dari meja dan kami siap makan, mbak-mbak waitress kembali membawa dua buah saus dan sebuah keranjang berisi sayuran mentah. Sambil terheran-heran saya menatap keranjang itu, menatap ke arah Panda, balik lagi menatap keranjang itu. Apa yang mesti kami buat dengan sekeranjang selada mentah, daun perilla  (semacem daun mint), bawang putih mentah dan lombok ijo segede gaban ini? 

Samgyupsal versus Perilla leaves

Rupanya ada dua cara untuk makan Samgyupsal ini. Cara pertama, daging dibungkus dengan daun-daunan ini, boleh ditambah kimchi, bawang putih bersama saus ssamjang yang rasanya pedes dan aromanya cukup tajam. Cara kedua, daging cukup dengan dicelup dengan saus gireumjang yang cenderung manis. Mana yang kami pilih? Sudah jelas keranjang sayuran mentah itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Kami hajar semangkuk Samgyupsal ini bersama nasi dan saus manisnya. Kata Panda, “enak, empuk, sayangnya kurang banyak...”. Nasinya pun enak dan kenyal. Untung aja cara kedua ini cocok dengan selera kami.

  
Btw, total damage Rp. 150.000 after tax. Harga yang lumayan memang, tapi setimpal dengan pengalaman kuliner yang bener-bener unik..

Kamis, 17 Mei 2012

Berburu kuliner murah di Kuala Lumpur

Sebelum pergi ke suatu tempat, biasanya kami menyempatkan diri melakukan riset kecil-kecilan. Untuk urusan perut, minimal harus bikin list what-to-eat. Kecuali untuk trip ke Kuala Lumpur kemarin yang bener-bener dadakan. Definisi dadakan itu: tiket penerbangan baru dibeli sehari sebelum keberangkatan. Sounds crazy, right? Ide konyol ini dicetuskan oleh Panda yang dalam kondisi overload dengan kerja kantornya. 

Singkat cerita meski minim riset, dalam 4 hari kami di Ibukota Malaysia itu  kami  menjajal kuliner lokal dengan harga yang ramah di kantong. Asumsikan 1 ringgit = 3000 rupiah, maka banyak kebanyakan menu dibawah ini senilai Rp. 15.000-30.000/porsi. Beberapa menu sedikit lebih mahal tapi porsinya cukup untuk dimakan berdua. Makan murah, yuk mari.. 

Main Course
1. Roasted Chiken Rice
Menu favorit saya. Chiken Rice disajikan berupa nasi yang dimasak dengan kaldu, plus potongan ayam hainan panggang yang gurih dan berminyak. Disajikan dengan semangkuk kecil sambal yang maknyus, potongan mentimun dan semangkok sup kaldu. Harga RM 4.5 di kedai kopi di Chinatown maupun di Petaling street night market. 


2. Roasted Pork Rice
Mirip dengan Chiken Rice, bedanya Pork Rice disajikan dengan potongan daging dan lemak babi yang dipanggang yang gurih dengan saus yang cenderung manis. Harga seporsi RM 5.5 di Petaling street night market (Chinatown). 

3. Pork Mee
Kalau dilihat sekilas mirip mie kocok Bandung, bedanya Pork Mie ini menggunakan mie basah yang lebih besar, kuah yang lebih berlemak-berminyak dan diperkaya daging dan jeroan babi. Rasanya gurih banget. Harga seporsi di sebuah kedai kopi di Petaling Street RM 4.5 (small) dan RM 5.5 (large). 


4. Chiken Ho Fun
Ho Fun seperti kwetiaw bening dari tepung beras yang ditumis agak "nyemek" dengan sedikit kuah. Toppingnya irisan ayam hainan rebus, disajikan bersama semangkuk sup kaldu. Semula rasanya cuma sedikit manis dan agak hambar, setelah dituang kaldu baru berasa gurihnya. Berbeda dengan versi Singapore, Ho Fun ini mungkin lebih mirip versi Ipoh. Harga seporsi di sebuah kedai kopi di Petaling Street RM 4.5 (small) dan RM 5.5 (large).

5. Nasi Lemak (original)
Menu ini barangkali paling dikenal luas. Seporsi nasi lemak terdiri dari semangkuk nasi yang dimasak dengan santan, telur rebus, sepotong ayam goreng, ikan bilis goreng, kacang tanah goreng, irisan timun dan sambal. Harga RM 7.5 di food court Berjaya Times Square, sedikit lebih mahal dari versi kedai kopi. Tapi kami sempet lihat ada nasi lemak bungkus daun pisang yang murah banget di daerah Chinatown, harganya mulai RM 1,2!


6. Nasi Lemak Penang
Kami juga baru tahu kalau nasi lemak punya beberapa versi. Nasi lemak penang yang kami cicipin ini terdiri dari nasi yang dimasak dengan santan, ikan goreng, udang yang dimasak assam, sambal ikan bilis dan sambal belacan. Definitely delicious! Panda lebih suka nasi lemak versi Penang ini. Harga RM 10.50 di cafe Little Penang, Suria KLCC.

7. Grilled Sting Ray
Jenis kuliner ini nggak lazim buat kami. Kami bertemu dengan menu ikan pari bakar ini secara tidak sengaja di jalan Alor, pusatnya kuliner Kuala Lumpur. Grilled sting ray ini dagingnya lembut, nggak amis karena di bumbu dan sambalnya kaya aroma jeruk nipis. Bumbu pedasnya juga nendang. Harga RM 20 di Chu Cha restaurant, porsinya bisa buat berdua.


8. Char Siew
Menu yang Panda banget. Char Siew atau babi panggang merah atau pork BBQ ini diiris tipis-tipis, disajikan bersama potongan timun, nasi dan saus yang rasanya asam-manis. Kadang Char Siew ini juga disajikan bersama mie. Harga seporsi RM 5.5 di kedai kopi di Petaling Street. Murmer mantab!

9. Char Kuey Teow
Char kuey teow bisa disimpulkan dalam dua kata: must-try! Menu khas Penang ini berupa kwetiaw beras yang ditumis dengan telur bebek, taoge, kucai, kerang dan udang. Topingnya adalah daging kepiting. Memang agak terlalu oily, tapi rasanya lembut, gurih-manis, pokoknya nendang dan bikin ketagihan. Harga seporsi RM 10.5 di Little Penang, Suria KLCC.

10. Vegetable 
Entah kenapa harga sayuran disini lebih mahal ketimbang seporsi nasi dan lauknya. Karena butuh asupan serat, kami sempet mencicipi beberapa sayur yang umumnya ditumis sebentar dengan bumbu sederhana, rasanya masih "krenyes-krenyes" but delicious enough! Harga mix vegetable yang mirip cap cay ini RM 8 di petaling street night market. Begitu juga stir fried baby kailan with garlic ini juga seharga RM 8 di Chu Cha restaurant di jalan Alor.  


11. Pizza
Baru kali ini kami bela-belain datang ke bar cuma untuk makan Pizza. Saking kepinginnya sama keju, kami melenggang ke Reggae Bar Kuala Lumpur lalu duduk di teras luarnya sembari memesan pizza dan air mineral. Sementara di dalam bar, para bule sibuk bersosialisasi ditemani hentakan musik reggae dan alkohol. Untungnya pizza 8 sliced seharga RM 19.5 ini sesuai ekspektasi. Adonannya tipis-renyah dengan topping beef bacon, full keju mozzarella dan mengenyangkan. Lovely pizza, tapi selesai makan langsung ngacir..  


12. Fast Food
Biasanya fast food jadi opsi kami yang paling akhir, tapi lantaran belum makan siang kami beli paket KFC di LCCT sambil menunggu penerbangan pulang. Lagian duit tinggal 22 ringgit sementara cafe lain kelihatannya mahal. 

Jadilah kami share paket KFC senilai RM 17 yang berisi 2 potong crispy chiken, 1 cup pepsi cola dan menu pelengkap lainnya. Saya dan panda pun berbagi ayam meski tanpa nasi. Rasa KFC di Malay tentu beda dengan versi Indo, sudah disesuaikan rasanya. Kalau boleh pilih, we prefer local dish for sure lah..  


finally..
Ini adalah 12 menu kuliner murmer yang kami jumpai di Kuala Lumpur. Postingan selanjutnya bakal berisi jajanan murmer di KL. Travel more, eat more! :)

Kamis, 26 April 2012

Nyicip Durian Kradum, si kuning dari Thailand


Walaupun selera saya dan Panda dalam hal makanan tidak selalu sama, tapi saya dan Panda satu suara soal durian. Yes, we are durian lover! Kalau salah satu dari kami lagi "nduren" atau dapet oleh-oleh pancake durian Medan yang tersohor itu, langsung deh saling pamer foto via BBM. Saking cintanya Panda sama duren sampe-sampe saya cuma dikasi satu biji aja sewaktu kami nyicip duren Penang yang legit itu. Cccckk...  

Beberapa waktu lalu saya lagi pengen banget makan Monthong. Sayangnya berakhir dengan keluar masuk ke toko buah dengan tangan kosong, entah kenapa waktu itu Monthong susah banget dicari. Di kios buah terakhir di depan rumah saya ditawarin Kradum, sepupunya si Monthong yang juga dari Thailand. Kradum thong berasal dari kata kradum yang artinya kancing dan thong yang berarti emas. Kancing emas barangkali maksudnya..


si yellow Kradum
Bentuk durian kradum ini hampir bulat telur. Saya pilih yang sizenya medium, berat kurang dari 3 kg dengan warna kulit hijau. Harganya pun lumayan mahal, Rp. 37.900/kg. Sebenarnya sedikit ragu akan kematangannya, karena sudah diendus-endus baunya nyaris tak ada. Setelah dibuka saya cukup surprised melihat tampilannya yang cantik dengan warna kuning yang menggoda. Ketebalan buah sedang, kurang dari 1 cm, warna daging kuning, bentuk kokoh, bentuk biji medium-besar, rasanya tidak semanis dan selegit Monthong, juga tidak pahit sama sekali. 

Saya kok kurang sreg dengan rasanya yang serba nanggung, atau saya yang nggak pinter milih? Tidak lama berselang, iseng-iseng saya beli Kradum lagi kali ini bersama Panda. Kok Panda juga kurang sreg, dicuekin itu durian di kulkas padahal biasanya langsung disikat habis. Barangkali karena saya cenderung suka durian yang manis, Panda suka yang pahit. Dan kami sama-sama suka durian dengan aroma yang nendang. Nampaknya tiap varietas durian punya penggemar masing-masing, dalam hal ini kami masih prefer si Monthong. Biarpun begitu kami juga bermimpi, kapan durian lokal yang yummy-yummy itu bisa go international seperti durian-durian Thailand..? Let's make a wish. :)   

Rabu, 18 April 2012

Nostalgia Kota Tua, Jakarta

Sudah berjam-jam menatap layar laptop bersama setumpuk buku dan kertas, tapi tugas ini belum kelar juga. Deadline makin dekat tapi otak ini lagi sulit diajak kompromi. Seperti kebanyakan orang pada umumnya, we need some refreshment. Saya beranjak ke dapur untuk menyeduh kopi ditemani lantunan lagu “it’s magic” dari the Pilot. Lagu era 70’an ini populer lagi setelah dijadikan background lagu sebuah iklan motor. Lagu ini selalu terdengar di Stasiun Manggarai, Suddenly that song get stuck in my head! Coffee ready, music ready, then i start to blogging. 

Cireng vs Dimsum
Postingan ini terinspirasi ketika sedang telponan dengan Panda sore tadi. Gara-gara itu, saya mengaduk-aduk folder foto di facebook dan menemukan folder berjudul “April 2011”. Folder ini berisi foto jeng-jeng di seputaran Jakarta yang belum sempet diposting ceritanya. Keliatan banget ya malesnya, it’s been a year gitu loh! Beberapa foto yang mengesankan ketika kami sepedaan ala nyonya dan meneer Belanda di Old Batavia alias Kota Tua Jakarta. 

Kawasan Kota Tua ini terletak di Jakarta Barat. Untuk gampangnya kami naik KRL dari stasiun Depok Baru ke Stasiun Kota, lalu tinggal menyeberang terowongan BEOS untuk mencapai kawasan Kota Tua. Kawasan Kota Tua ini berisi gedung-gedung peninggalan Belanda, yang kini disulap jadi museum. Old Batavia ini ideal buat pelancong yang punya minat pada wisata arsitektur dan sejarah.  

Hari itu saya dan Panda janjian untuk bertemu our bestie: Lina & Vini di Kota Tua. Sementara menunggu kami ke berbagai museum: M. Mandiri, M. Bank Indonesia, M. Fatahillah, M. Wayang, dan M. Seni Rupa dan Keramik. Kepanasan, basah kuyup karena keringat dan perut keroncongan, akhirnya kami menjajal es lilin potong dan cireng yang harga keduanya cuma Rp. 2.000-an.

Batavia Cafe
Batavia Cafe, April 2011
Belum kenyang juga, kami melirik Batavia Cafe dan semula untuk sekedar ngopi. Begitu masuk atmosfer klasik-elegannya begitu terasa, pantes ada waiter yang sempet melirik ke kami: T-shirt plus celana pendek. Kami duduk di lantai 2, bangunannya klasik tapi sungguh cozy dengan furniture serba kayu, lampu-lampu cantik nan antik dan jendela-jendela besar menghadap ke pelataran Kota Tua juga banyaknya pigura foto di dinding. Pengunjung di cafe ini rata-rata bule juga sih. 

Kalau melongok sedikit keluar jendela, terlihat kumpulan orang yang sedang sepedaan, pertunjukan reog dan gerobak cireng 2.000-an tadi pun kelihatan. Satu kawasan tapi rasanya dua dunia yang berbeda. Di lantai satu Batavia Cafe ada live music performance yang membawakan lagu-lagu jazz dan latino, it makes more romantic. Ketika duduk, taplak meja putih di meja kamipun segera digantinya, dan menu makanannya ada di balik pigura-pigura itu. Unpredictable! Kami rada shock liat pricelistnya, tapi kata Panda sekalian celebrate my birthday and our anniversary. Hari jadi kami memang bukan tanggal 2 April, but somehow selalu dirayakan tanggal 2 di tiap bulannya. 

Kami pesan Dimsum dan Babi yang dimasak merah. We have say kalau rasanya memang outstanding, bahan-bahan yang dipakai bener-bener fresh, tampilan, porsi dan servicenya pun sebanding dengan harganya. Tidak berapa lama sohib kami muncul, dan akhirnya kami foto-foto di hampir seluruh penjuru cafe ini. Termasuk toiletnya! Toilet di Batavia Cafe ini cantik banget. Dekorasi bergaya klasik  penuh pigura dan kacanya dihiasi lampu, macem ruang rias artis aja! Total damage for 2 main course and 4 beverages Rp. 350K++. Kalau dituker cireng dan es potong dapet berapa ya? Hihihi...

Sepedaan di Kota Tua 
Cycling in Old Batavia, April 2011
Perut kenyang, hatipun senang! Rasanya nggak lengkap ke Kota Tua kalau nggak sepedaan. Jadinya kami sewa sepeda “ontel” jadul yang disewakan bersama topi meneer dan topi berenda ala nyonya Belanda. Sepeda-sepeda warna-warni ini matching dengan topi-topinya lho! harga sewanya Rp. 20.000/jam. Bangunan dengan arsitektur Belanda ini memang perfect spot buat para fotografer, tapi kawasan ini biasanya sangat penuh jadi susah untuk mendapatkan foto yang steril dari pengunjung lain. 

Biarpun begitu banyak pasangan yang melakukan sesi foto prewedding di area ini. Ya, mereka repot-repot dengan dandanan lengkap. Dari sanggul, bulu mata palsu hingga balutan gaun putih merekah dan jas lengkap di siang yang terik plus dilihat-liatin orang banyak pula, but it worth to do. Saya yakin hasilnya bakalan memuaskan. Foto-foto kami diatas diambil dengan museum Fatahillah sebagai backgroundnya. Waktu di upload di FB sempet dikira foto prewed juga. Apa? Masa pake celana pendek dan muka berminyak gitu, hihihi..

Selesai sudah nostalgia di Kota Tuanya, its time to finished my assignment. Happy Traveling!   











Selasa, 20 Maret 2012

Sate Kambing R. Kumis, Depok

Sate Ayam & Sate Kambing R. Kumis

Belakangan ini saya sedang bersemangat untuk membuat review makanan di Depok supaya nggak bingung lagi kalau ada teman-teman yang tanya tempat makan enak di Depok. Disepanjang jalan Margonda berjejeran ratusan warung makan dan restoran, jadi memilih makanan bisa cukup membingungkan. 

Satu kuliner favorit yang juga legendaris adalah Sate Kambing R. Kumis. Kalo menurut Panda satenya standar, tapi buat saya dan tante sate disini istimewa. Ada beraneka jenis sate di Indonesia, sate R. Kumis ini bisa dibilang termasuk sate Jawa yang cenderung manis.   

Sate R. Kumis, Jl. Margonda, Depok
Warung sate ini menjual dua jenis sate: sate ayam dan sate kambing. Sate Ayam R. Kumis terbuat dari potongan daging ayam yang dibakar diatas arang. Sate kemudian dituangi saus kacang dan dilengkapi potongan bawang merah mentah, tomat dan acar. Tekstur satenya sangat empuk, bercampur dengan saus kacang yang gurih dan manis. Saus kacang biasanya dibuat dari kacang yang diuleg dengan cobek, tapi saus kacang disini dibuat dengan kacang yang diblender hingga lembut. Harga seporsi sate ayam Rp. 20.000, berisi 10 tusuk.  

Sate Kambing saos Kecap
Sate Kambing R. Kumis terdiri dari potongan daging yang sudah dimarinated. Tiap tusuknya disisipi lemak agar tidak mudah gosong ketika dipanggang. Setelah dipanggang satenya dituangi saus kecap manis dan ditaburi irisan bawang merah mentah dan potongan cabe rawit merah-hijau. Penampakan sate ini gelap, mengkilap namun rasanya maknyuss, sekali gigit minta tambah lagi. Tekstur dagingnya empuk dan kenyal, manisnya meresap sampai ke dalam bercampur dengan pedas merica dan cabe rawit. Yang istimewa, tidak tercium aroma "prengus" khas kambing. Harga 15 tusuk sate kambing Rp. 33.000,-.

Kedua sate diatas cocok dimakan bersama nasi ataupun lontong. Bagi penggemar kambing masih ada menu lainnya: sup  kambing dan tongseng yang sayang untuk dilewatkan. Warung sate ini biasanya sangat ramai di malam hari dan agak sulit parkir karena keterbatasan lahan parkir. Kalau melewati Depok, boleh mampir di Sate Kambing R. Kumis di Jalan Margonda.      

Sate Kambing R. Kumis
Jl. Margonda no. 458, Depok