Selasa, 11 Februari 2014
Selasa, 17 September 2013
Minggu, 15 September 2013
Rabu, 11 September 2013
I'm in love with Chatime
"Namanya jodoh nggak akan kemana.."
Ini mitos lama yang biasa dikatakan orang untuk menghibur jiwa-jiwa yang lagi galau. Tapi kali ini saya pikir mitos itu ada benernya. Paling nggak untuk kasus yang satu ini. Perjumpaan pertama saya dengan Chatime adalah di penerbangan Air Asia rute Kuala Lumpur- Clark. Bisa dibilang naksir pada "sruputan" pertama pada Chatime roasted milk tea with grass jelly. Rasanya bener-bener khas, tehnya manis dengan aroma unik sementara grass jellynya lembut dan adem di badan. Btw, di Indonesia grass jelly lebih beken dengan nama cincau. Pantes kan adem.
Pertemuan Pertama
Setahun berlalu, mungkin karena jodoh, atau karena baru tahu kalau Chatime ini ternyata frenchise, ketemulah lagi kami di Margocity, Depok. Senangnya hati, saya dan Panda menjatuhkan pilihan ke roasted milk tea with grass jelly (lagi). Ternyata Chatime ini konsepnya costumized, jadi konsumen bisa menentukan mau berapa banyak es atau gula. Tapi efeknya jadi lamaaa banget antrinya. Di kotak sekecil itu ada setidaknya 10 karyawan tapi teteeep aja lama. Antriannya bikin ilfil deh..
Pertemuan kedua terjadi di PIM. Waktu itu saya lagi nemenin Panda ngelembur di kantornya di Fatmawati. Kami lalu ke area 51 di PIM untuk cari makan. Dan tadaa.. ketemu lagi Chatime, lagi-lagi dengan antrian yang mengular. Tapi tetep aja ikut ngantri. Pilihannya jatuh ke Roasted tea with bubble. Dan, ternyata kami lebih suka grass jelly. Karena deket kantornya, si Panda suka pamer-pamer kalau lagi beli Chatime di PIM.
| Chatime Grass Jelly with Fresh Milk |
Lagi-lagi, jodoh emang nggak kemana..
Dalam rutinitas pulang ke kantor, seperti biasa saya selalu melewati Ace Hardware Margonda, Depok. Tapi hari itu ada yang lain. Spanduk raksasa berwarna pink-ungu yang tertempel di tembok ini bikin saya langsung belokin motor. Ada Chatime didalem Ace Hardware dan antriannya mending banget! Lagi-lagi order roasted milk with grass jelly.
Sampai pertemuan kesekian, kami selalu order menu yang sama. Sampai suatu saat roasted teanya sold out. Iseng-iseng order grass jelly with fresh milk tapi ditambah less ice dan extra sugar karena recepi aslinya dengan plain milk. Dan, rasanya enyakkk banget, jauh dari eneg. Kalau sama roasted tea itu ibarat naksir, sama grass jelly with fresh milk ini ibarat cintaaa. Hahaha...
Sejak itu deh, tiap weekend saya dan Panda rajin ke Ace Hardware Margonda ini cuman buat beli chatime aja. Dan orang rumah pun jadi ikut ketagihan. Kadang-kadang kalau pulang kantor mesti tutup kaca helm biar nggak tergoda belok ke sini. Semoga cinta ini langgeng dan nggak bikin tekor karena harga per-cupnya pun lumayan. Regular size Rp. 21.000,- dan Large size Rp. 24.000,-. Yummy..
Good Tea, Good Time (Chatime)
Airport Corner: Tong Tji Tea Bar, Semarang
Sebagai "korban urbanisasi", kami biasa pulang kampung dengan rute penerbangan Jakarta-Semarang atau Jakarta-Solo dilanjut jalan darat ke Salatiga. Seringnya kami berangkat-pulang melalui Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.
Meski melayani rute penerbangan International, bandara ini relatif kecil dibanding bandara-bandara tetangganya. Bandara ini hanya mempunyai 1 terminal. Pintu keberangkatan untuk semua penerbangan melalui satu pintu yang sama. Meski pilihan makanpun terbatas, begitu kami punya spot favorit disini: Tong Tji Tea Bar!
Secangkir Teh dan Sepiring Gorengan
Tong Tji Tea bar ini berada di dalam ruang tunggu domestik, persisnya ada di pojok kanan. Jelas dari namanya, Tong Tji Tea Bar menjual aneka varian teh maknyus dari brand Tong Tji. Tapi ada dua hal yang membuatnya spesial.
Pertama, menunya. Selain teh, Tea Bar ini juga menjual aneka jajanan khas Jawa. Jajanan yang wajib dicoba: tahu bakso, tahu kemul dan mendoan. Tahu bakso ini adalah tahu isi daging bakso, yang dikukus lalu digoreng. Tahu kemul dibuat dari tahu yang digoreng tepung sampai garing dan renyah. Mendoan dibuat dari irisan tipis tempe yang digoreng dengan tepung dan irisan daun bawang. Walau sederhana, tapi gorengan ini selalu ngangenin.
Ketiga menu "goreng-gorengan" ini disajikan dalam potongan kecil-kecil, finger foods, alias sekali suap. Gorengan yang panas, renyah krenyes-krenyes dan gurih berpadu dengan saus yang pedas-manis, rasanya maknyuss!! Harga seporsinya sekitar belasan ribu rupiah dan bisa untuk berdua. Kalau tehnya, favorit saya adalah Milk Tea sementara Panda lebih suka Jasmine Tea.
Kedua, lokasinya. Terletak di dalam ruang tunggu, Tea Bar menghadap persis ke kaca dimana pesawat-pesawat kita parkir. Jadi ketahuan banget pesawatnya mana udah dateng, mana yang delay. Sayangnya, jumlah meja-kursi Tea Bar ini terbatas, jadi sabar-sabar saja antrinya.
Airport Waiting Time
Jadilah inilah ritual kami menunggu penerbangan pulang ke Jakarta. Sembari menunggu gate open, kami matikan handphone. Lalu menyibukkan diri dengan obrolan ngalor-ngidul, ditemani teh hangat dan gorengan panas. Sesekali melihat lalu-lalang pesawat yang bergantian landing dan take off.
Kadangkala lucu juga mengamati aneka ragam penumpang. Rombongan keluarga yang ribut karena barang bawaannya, bapak-bapak bussiness man yang sibuk di depan laptopnya, pasangan muda yang sibuk dengan HPnya masing-masing atau para orang tua yang sibuk mengejar anaknya kian kemari. Sementara kami duduk tenang sambil menikmati teh. Just like a quote by David Walliams "All human life can be found in an Airport".
Meski melayani rute penerbangan International, bandara ini relatif kecil dibanding bandara-bandara tetangganya. Bandara ini hanya mempunyai 1 terminal. Pintu keberangkatan untuk semua penerbangan melalui satu pintu yang sama. Meski pilihan makanpun terbatas, begitu kami punya spot favorit disini: Tong Tji Tea Bar!
![]() |
| Mendoan Petis, Tahu Kemul and Tong Tji Jasmine Tea |
Secangkir Teh dan Sepiring Gorengan
Tong Tji Tea bar ini berada di dalam ruang tunggu domestik, persisnya ada di pojok kanan. Jelas dari namanya, Tong Tji Tea Bar menjual aneka varian teh maknyus dari brand Tong Tji. Tapi ada dua hal yang membuatnya spesial.
Pertama, menunya. Selain teh, Tea Bar ini juga menjual aneka jajanan khas Jawa. Jajanan yang wajib dicoba: tahu bakso, tahu kemul dan mendoan. Tahu bakso ini adalah tahu isi daging bakso, yang dikukus lalu digoreng. Tahu kemul dibuat dari tahu yang digoreng tepung sampai garing dan renyah. Mendoan dibuat dari irisan tipis tempe yang digoreng dengan tepung dan irisan daun bawang. Walau sederhana, tapi gorengan ini selalu ngangenin.
Ketiga menu "goreng-gorengan" ini disajikan dalam potongan kecil-kecil, finger foods, alias sekali suap. Gorengan yang panas, renyah krenyes-krenyes dan gurih berpadu dengan saus yang pedas-manis, rasanya maknyuss!! Harga seporsinya sekitar belasan ribu rupiah dan bisa untuk berdua. Kalau tehnya, favorit saya adalah Milk Tea sementara Panda lebih suka Jasmine Tea.
Kedua, lokasinya. Terletak di dalam ruang tunggu, Tea Bar menghadap persis ke kaca dimana pesawat-pesawat kita parkir. Jadi ketahuan banget pesawatnya mana udah dateng, mana yang delay. Sayangnya, jumlah meja-kursi Tea Bar ini terbatas, jadi sabar-sabar saja antrinya.
Airport Waiting Time
Jadilah inilah ritual kami menunggu penerbangan pulang ke Jakarta. Sembari menunggu gate open, kami matikan handphone. Lalu menyibukkan diri dengan obrolan ngalor-ngidul, ditemani teh hangat dan gorengan panas. Sesekali melihat lalu-lalang pesawat yang bergantian landing dan take off.
Kadangkala lucu juga mengamati aneka ragam penumpang. Rombongan keluarga yang ribut karena barang bawaannya, bapak-bapak bussiness man yang sibuk di depan laptopnya, pasangan muda yang sibuk dengan HPnya masing-masing atau para orang tua yang sibuk mengejar anaknya kian kemari. Sementara kami duduk tenang sambil menikmati teh. Just like a quote by David Walliams "All human life can be found in an Airport".
Selasa, 10 September 2013
Airport Corner: Food Cetera, Soetta Airport Jakarta
![]() |
| not too expensive foods, cozy place @Food Cetera |
Bulan Maret lalu, saya dan tante sampai juga di terminal 1 bandara Soekarno-Hatta setelah melewati penerbangan Malang-Jakarta dengan turbulensi yang sukses bikin jantung melompat-lompat. It was the most scariest flight experience we've ever had! Karna kurang familier dengan terminal ini dan dalam kondisi capek, stress dan super lapar, kami bergegas melenggang masuk ke Food Cetera yang terlihat cozy dan baru dibuka. Fyi, food court ini terletak diantara terminal 1B dan 1C bandara Soetta.
| classic poster @Food Cetera |
Sesuai dugaan, atmosfer dan ambiancenya OK punya, interiornya ditata apik dengan gaya vintage dengan dominasi kayu yang menonjol. Saya juga suka dinding bata eksposnya yang dihias dengan poster klasik. Meskipun mengusung gaya oldies, sistem pemesanan dan pembayarannya sudah modern menggunakan sistem pre paid card. Sebagaimana food court di mall-mall besar di Jakarta, sistem ordernya dipermudah dengan sistem kartu yang diisi deposit.
![]() |
| menu nasional dan internasional @Food Cetera |
Pilihan makanan di Food Cetera cukup beragam dari makanan indonesia maupun menu internasional. Meski belum mencoba semua, tapi saya punya beberapa menu favorit disini. Untuk makanan lokal, favorit tante saya adalah nasi bakar peda yang wangi, sementara pilihan saya jatuh ke pempek lenggang yang gurih. Sementara menu internasional, kami 100% sepakat spagettinya worthed to try. Saus bolognisenya itu bener-bener pas antara manis-asam dan loyal daging cincang.
Yang bikin ketagihan lagi, disini bener-bener banyak pilihan dessert. Es doger, es puter dan es-es menggiurkan lainnya dibandrol dengan harga belasan ribu rupiah. Sedangkan harga makanan disini kurang lebih sesuai standar airport, sekitar 20-40ribu per porsi. Kalau nggak salah kami berdua pesan 4 jenis makanan 'berat' dan 2 dessert dengan total kurang dari Rp. 150.000,-.
![]() |
| Es-es menggiurkan @Food Cetera |
Di tengah hiruk-pikuknya Bandara Soetta, Food Cetera ini tempat yang recommended untuk urusan perut. Soalnya kami ini tipe yang masuk ke restoran 100% untuk makan, bukan sekedar untuk nongkong cari wifi atau menyesap secangkir kopi. Buktinya, bulan Juni lalu sesampainya di Terminal 3 setelah penerbangan Hongkong-Jakarta, kami rela seret-seret koper dan naik shuttle bus ke Terminal 1. Dan setelah 9 hari berdimsum dan berwanton ria, kami akhirnya "bales dendam" bernasi ria di Food Cetera ini.
“A full stomach makes a happy heart”. – Spanish Proverb
Kamis, 13 Juni 2013
Until Next Time Bangkok
Setengah jam saya dan Panda frustasi di depan ATM BCA. Biasanya kami pesen tiket pesawat ke agan-agan Kaskus langganan kami. Dasar iseng, hari itu kami pesan online di website resminya Tiger Airways yang pembayarannya via ATM BCA. Time limit pembayaran cuma 3 jam. Sementara, pembayaran berkali-kali gagal. Barangkali itu sebuah pertanda. Sayangnya, kami kok nggak sensitif ya.
Susah payah, kami dapetin juga promo "pergi bayar-pulang gratis" seharga 2,2 juta PP untuk dua orang. Berbeda
dengan rute ke dua negara tetangga, penerbangan Jakarta-Bangkok ini
jarang banget promo semiring ini. Jarang loh ya, bukannya nggak pernah
sama sekali. Apalagi jadwal terbangnya menjelang long weekend. Kebayang, kan, betapa happynya kami.
![]() |
| unused airline ticket |
Bangkok sudah lama masuk di bucket list Panda. Saya yakin Khao Niaow Ma Muang alias Ketan Mangga dan Ketan Duren udah melayang-layang di pikirannya. Saya juga curiga dia sudah menyiapkan daftar must-try-food, seperti biasa. Sementara itu, saya membayangkan kami bersepeda menuju reruntuhan pagoda dan kuil di Ayutthaya yang damai dan tenang. Lalu, setelah adegan kepanasan dan keringetan, mungkin sedikit kram kaki, lanjut minum thai burned coconut yang super seger. Life is good.
Rencana tinggal rencana. But, I believe it happens for reasons.
Tiga minggu sebelum keberangkatan awan hitampun tiba. Rencana trip kantor Panda direschedule persis di tanggal keberangkatan kami. Mubazir dah. Ada sih niatan untuk solo traveling ke Bangkok, sementara panda pergi ke Aussie dan New Zealand. Tapi itulah, Saking sayangnya atau saking paranoidnya, Panda itu bukan tipe yang membolehkan pacarnya keluyuran sendirian. Di negeri orang pula. Naik angkot sendirian di Depok aja nggak boleh kok. "Naik taxi aja, aku yang bayarin" segitunya yah.
Back to the ticket, kami sudah coba nego via call center si macan terbang. Tapi, namanya juga tiket promo jadi nggak bisa di reschedule. Nggak ada jalan lain selain mengiklaskan tiket itu hangus. Sedih? Sedikit sih. Tapi, tidak ada yang lebih membahagiakan melihat Panda berkesempatan terbang ke negeri koala dan kiwi itu. Jalan-jalan, dibayarin kantor, masih dikasi duit saku pula. How lucky he is!
God always has the best plan. So, until next time, Bangkok #praying#
God always has the best plan. So, until next time, Bangkok #praying#
Minggu, 31 Maret 2013
Giveaway part 2
Dear all,
Apa kabar semua! Karena kesibukan dalam pekerjaan (dan plesir), kami jadi jarang update postingan dan blog ini jadi terbengkalai deh. Padahal dulu targetnya minimal satu postingan per bulan. Hehehehe...
Dalam rangka menggiatkan kembali gelora per-bloggingan, kita mau mengadakan giveaway yang ke-2. Tujuannya giveaway kali ini adalah untuk menghimpun sumbang-saran serta masukan untuk bikin blog ini jadi lebih baik.
... trus hadiahnya apa?
... trus caranya gimana?
Caranya super gampang,
Ketentuan:
Apa kabar semua! Karena kesibukan dalam pekerjaan (dan plesir), kami jadi jarang update postingan dan blog ini jadi terbengkalai deh. Padahal dulu targetnya minimal satu postingan per bulan. Hehehehe...
Dalam rangka menggiatkan kembali gelora per-bloggingan, kita mau mengadakan giveaway yang ke-2. Tujuannya giveaway kali ini adalah untuk menghimpun sumbang-saran serta masukan untuk bikin blog ini jadi lebih baik.
... trus hadiahnya apa?
2 pemenang akan mendapatkan voucher pulsa HP senilai
@Rp. 50.000,- (any provider)
... trus caranya gimana?
Caranya super gampang,
- Follow blog "Traveling ala Panda" ini.
- Sebutkan 1 judul postingan favorit kalian diblog ini beserta alasannya!
- Kasi saran atau ide untuk membuat konten maupun tampilan blog ini jadi lebih menarik!
Ketentuan:
Jawab pertanyaan diatas melalui kolom komentar di bawah ini yah, jangan lupa sertakan alamat email yang bisa dihubungi.
Program ini berlaku sejak dipublish sampai tanggal 15 April 2013, jam 12.00 WIB. Akan dipilih 2 orang pemenang dengan jawaban paling menarik. Jurinya adalah DuoPanda. Keputusan DuoPanda bersifat mutlak & tidak bisa diganggu gugat. Pemenang akan diumumkan lewat postingan blog.
Giveaway ini berlaku untuk nomer HP Indonesia dari provider mana saja. Pemenang nantinya akan dihubungi via email untuk mengkonfirmasi nomor HP, karena hadiah akan dikirimkan via elektronik.
Selamat mencoba & ditunggu jawabannya yah..
-DuoPanda
Rabu, 09 Januari 2013
Rabu, 19 Desember 2012
Rabu, 08 Agustus 2012
Kamis, 12 Juli 2012
Pengumuman Giveaway !!!
Dear blogger,
Terima kasih untuk partisipasinya dalam Giveaway pertama kami. Mungkin belum seramai yang diharapkan, however, thanks a bunch for your participation. And this is the winner..
Rabu, 11 Juli 2012
Festival Lampion, TMII
| keren: lampion gondola di danau buatan seberang Aquarium Air Tawar TMII |
Masih inget cerita waktu kami niat banget naik Balon Raksasa di TMII? Somehow, karena kesorean dan entah ketentuannya seperti apa, untuk naik Balon Raksasa sore hari ini kami mesti bayar tiket masuk ke Festival Lampion yang diadakan di area yang sama.
Nama resmi event ini Disney Lantern Festival, cuma orang mungkin lebih familiar dengan istilah festival lampion Disney. Lokasinya juga di Taman Bunga TMII. Harga tiket masuk Rp. 60.000,-, lumayan dalem di kantong terutama buat mereka yang nggak persiapan dari rumah. Hiks. Tapi bisa dibayar dengan debit card dan ada diskon 20% untuk pemegang kartu Debit dan CC Permata Bank. Soalnya ini event mereka yang sponsorin. :p
Festivalnya sendiri sih bagus, selain tokoh Disney ada juga beberapa tokoh dongeng Indonesia. Contohnya Malin Kundang lengkap dengan background rumah gadang dari lampion. Jadi semua yang dipamerkan di festival ini adalah lampion dari yang berbentuk manusia, tokoh kartun, aneka binatang sampai arsitekturnya adalah lampion.
Tapi sebagus-bagusnya lampion tetep aja baru keliatan "lampion"nya pas malam. Ketika hari sudah bener-bener gelap baru pesona lampionnya maksimum. Coba aja bandingkan foto yang diambil ketika hari masih sedikit terang dan ketika gelap. Beda banget kan? that's why, makin malem rasanya makin ramai orang berdatangan.
Tapi memang untuk mereka yang narsis, tetep harus datang agak sorean waktu masih agak terang. Soalnya bakal susah banget foto orang ketika dah bener-bener gelap. Lihat aja, susah banget foto panda, kalah "terang" sama lampionnya, hehehe.. Selain lampion ada juga toko stationery yang menjual pernak-pernik disney. Untuk yang kelaperan, ada juga yang menjual makanan ringan.
Btw, lampion favorit kami berdua adalah lampion gondola yang mengapung di atas danau buatan di seberang Aquarium Air Tawar. Which one your favorite lantern?
Happy Traveling :)
Senin, 09 Juli 2012
Balon Udara Raksasa, TMII
![]() |
| Balon Raksasa TMII, terbesar dan pertama di Indonesia (kata brosur) |
Entah kenapa sekarang punya hobi posting foto trus kabur tanpa kata-kata apapun. Setidaknya lumayanlah, daripada membiarkan blog ini terbengkalai. Sekalipun di foto kami ini nampak cengar-cengir, sebenarnya minggu-minggu ini terasa luar biasa hectic. Ngedit foto ini aja sambil terkantuk-kantuk. Belum lagi kalau pas lagi upload, internetnya lemot. *banting modem*
Acara naik balon raksasa, atau istilah kerennya HiFlyer Baloon ini bermula ketika beberapa bulan lalu kami berdua bertandang ke TMII. Niatnya emang murni mau naik balon. Badan sih boleh bongsor, tapi jiwa tetep anak-anak. Sudah sampai di counter tiketnya, ehhh.. balonnya nggak beroperasi karena kondisi angin yang nggak memenuhi standar operasional. Tetap aja kami beli dua tiket yang berlaku selama setahun. Lagipula mumpung ada opening discount, dari Rp. 120.000/weekend jadi cuma setengahnya aja. Hehe..
![]() | ||
| Butuh perjuangan buat naik Balon Udara selama 15 menit, TMII |
Setelah berbulan-bulan berlalu, minggu kemarin kami balik lagi ke TMII. Kali ini bersama sepupu yang lagi liburan sekolah. Biarpun "sepupu" tapi sebenernya kami bertiga lebih nampak seperti om dan tante yang lagi ngajak jalan ponakannya. Sayangnya piknik keluarga ini nggak mudah, bahkan nyaris bikin kesabaran habis.
Fyi, Balon udara ini terletak di Taman Bunga, tidak jauh dari teater Keong Mas. Untuk masuk ke Taman Bunga ini ada 3 pintu yang berbeda, dua di samping kanan dan kiri Kelenteng Kong Miao, satu lagi di adalah gerbang utamanya. Kami udah bolak-balik ke dua pintu di kanan-kiri kelenteng, tapi kata petugas jam 3 ditutup.
Aaargh.. rupanya setelah jam 3 siang paket reguler balon raksasanya udah selesai beroperasi. Trus? Masih bisa naik sih, tapi mesti masuk lewat gerbang utama, yang juga sedang digunakan untuk event Disney Lantern Festival. Hah?! trus bayar lagi dong? Setelah berdebat sengit dengan mbak-mbak penjaga loket, akhirnya kami menyerah juga dan nggesek debit card. Harga tiketnya Rp. 60.000/orang. Niatnya kan mau naek balon, kenapa jadi "dipaksa" nonton festival lampion.
![]() |
| tol Jagorawi dan mobil-mobil "mainan" dilihat dari balon udara |
Ya
sudah, tiket masuk lantern festival sudah ditangan. Tiket naik balon
udah ada dua, tinggal tambah satu. Mestinya tinggal tambah satu tiket
lagi buat sepupu yang masih kategori anak-anak. But not that easy.
Kami jalan buru-buru menuju balon raksasa melewati lampion-lampion
cantik itu. Soalnya liat lampionnya kurang seru kalau belum malem. Waktu
itu baru sekitar jam 5. Dan takut banget balon udaranya tiba-tiba
nggak beroperasi karena tiba-tiba anginnya kenceng. Kalau sampai gagal lagi rasa-rasanya nggak lucu banget.
Tiket balon untuk anak-anak udah ditangan, karena lagi ada festival harganya Rp. 100.000/anak. Siap naik? not yet. Tiket kami berdua gantian dimasalahin. Karena sedang ada festival, setelah jam 3 ada extra charge. Hah??! Dulu katanya bisa dipake sampai setahun tanpa embel-embel apapun. Panda langsung aja nyeletuk "kita nggak browsing dulu sih..", saya pun balas menggeram. Sebenernya sebelum berangkat kami sempet telpon ke call centrenya, dan tulalit-tulalit, nomernya tidak bisa dihubungin. Selidik punya selidik, cetakan nomor kontaknya itu salah, kelebihan satu digit. Gerrr... bukan salah kita dong! Akhirnya bayar extra charge Rp. 50.000/2 pax. Duh Gusti paringono sabar.
Betapa ribet dan mahalnya untuk sekedar naik balon. Setelah berfoto ria bersama balon, dengan senyum yang sedikit dipaksakan kami masuk ke "keranjang" yang sebenernya lebih mirip kerangkengan. Perlahan kami terangkat sampai setinggi 80 meter dan keranjang ini terikat dengan kawat baja. Supaya nggak kabur terbawa angin. Dari atas terlihat pemandangan tol Jagorawi, yang nggak pernah sepi dari kendaraan. Kira-kira berapa pemasukan pengelola jalan tol dalam sehari yah? *merancau*.
Dari atas segala sesuatu memang terlihat lebih teratur dan jelas lebih mungil. Deretan mobil parkir di depan keong mas tampak seperti jejeran mobil mainan, kecil dan rapuh. Skylift di seberang sana saja terlihat kecil dan pendek, berarti emang tinggi bener kami terbang. Semua keribetan dan stress itu terbayar sudah, 15 menit kami menikmati pemandangan TMII dari atas. Bonusnya adalah langit yang memerah menjelang sunset. Thanks God.
Hari ini naik balon udara di TMII dulu. One day, kalau Tuhan ijinkan semoga bisa ngerasain balon udara di Kapadokya, Turki. :)
Happy Traveling!
BALON RAKSASA, TMII
Taman Mini Indonesia Indah
Jl. Raya Taman Mini, Jakarta Timur 13560
Telp. 021-840 9472
Taman Mini Indonesia Indah
Jl. Raya Taman Mini, Jakarta Timur 13560
Telp. 021-840 9472
Open
Hour (Regular/non-event)
Selasa-Kamis 09.00-17.00 WIB
Jumat 14.00-19.00 WIB
Weekend & Libur 09.00-19.00 WIB
Senin TUTUP
Entrance
Fee
Gerbang TMII Rp. 9.000,-/orang
Sepeda Rp.
1.000,-
Motor Rp.
6.000,-
Mobil Rp.
10.000
HTM Balon Raksasa (Regular/non-event)
Weekday Rp. 100.000 (dewasa), Rp. 60.000 (anak-anak)
Weekend Rp. 120.000 (dewasa), Rp. 80.000 (anak-anak)
Call Centre (021) 29369634
Minggu, 01 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)










































